
KECAMAN KERAS ATAS KETIDAKPEDULIAN WALIKOTA MEDAN DAN MISTERI DANA CSR PERUSAHAAN DI BELAWAN

FORMABEMNEWS, BELAWAN – Ketika mayoritas masyarakat asli Medan Utara, khususnya kawasan Belawan, terus berjuang di tengah kubangan kemiskinan akut dan terhimpit beban hidup yang kian mencekik, kepedulian dari pimpinan tertinggi di Kota Medan justru nyaris tak bergeming. Di saat rakyat kecil harus pontang-panting memikirkan biaya hidup dan pendidikan anak, Walikota Medan Rico Waas malah terkesan sibuk bersolek merawat diri, menghamburkan anggaran untuk pencitraan, serta mementingkan kesenangan pribadi bersama kroni-kroninya.
Ironi pahit ini bukan sekadar retorika politik, melainkan realitas kejam yang dialami langsung oleh warga di lapangan. Janji-janji kampanye muluk yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat Medan Utara dan kawasan Belawan terbukti hanya angan-angan kosong belaka.
Potret Pilu Arsa Kartika: Lulus SD dengan Mimpi Nyaris Kandas
Di balik megahnya gedung-gedung perusahaan swasta maupun BUMN yang berdiri kokoh di tanah Belawan, tersimpan jerit tangis keluarga prasejahtera yang luput dari perhatian pemerintah kota.
Kisah nyata tersebut dialami oleh Arsa Kartika (13), anak pertama dari pasangan Bapak Fandi Awan (44) dan Ibu Arbaiyah (46), warga Jalan Serdang, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan. Arsa baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di UPT SD Negeri 060965 dengan hasil kelulusan yang membanggakan (nilai rata-rata transkrip 79,13). Namun, di balik prestasi akademisnya, impian gadis kecil ini untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hampir musnah total akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Sang ayah yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan tidak mampu membelikan perlengkapan sekolah untuk pendaftaran SMP. Lebih menyayat hati lagi, sang ibu, Arbaiyah, menderita gangguan pendengaran akibat sakit menahun yang dialaminya. Beruntung, kondisi memprihatinkan ini terendus oleh tim investigasi dan sosial FORMABEM saat melakukan peninjauan langsung ke kediaman warga.
Kemanakah Aliran Dana CSR Perusahaan dan Pelindo? Belawan Dibiarkan Sengsara Bertahun-Tahun!
FORMABEM juga melayangkan gugatan keras dan pertanyaan mendasar kepada pihak korporasi dan pemerintah: Kemanakah selama ini larinya dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan raksasa yang beroperasi di tanah Belawan, terutama pihak Pelindo?
Sangat tidak masuk akal ketika Belawan menjadi lumbung pendapatan besar bagi sektor pelabuhan dan industri nasional, namun wilayah serta warganya justru dibiarkan hidup sengsara bertahun-tahun. Bukan hanya kesejahteraan warganya yang terabaikan, fasilitas publik dan infrastruktur dasar di Belawan juga mengalami kerusakan parah dan dibiarkan terbengkalai tanpa solusi nyata dari pemerintah maupun korporasi.
Kecaman Keras FORMABEM: Anggaran Air Mineral Kantor Walikota Lebih Berharga dari Masa Depan Anak Bangsa?
Sebagai wadah kontrol sosial, pemantau kinerja aparatur negara, serta pembela hak-hak masyarakat yang diisi oleh para aktivis sosial, hukum, kesehatan, dan pendidikan, FORMABEM mengecam keras sikap abai Walikota Medan Rico Waas. Sangat memalukan dan tidak berperikemanusiaan ketika para pejabat asyik menikmati fasilitas mewah dan anggaran seremonial yang tidak menyentuh substansi penderitaan rakyat, sementara anak-anak usia sekolah terancam putus sekolah hanya karena tidak mampu menebus biaya atribut sekolah.
FORMABEM menilai bahwa anggaran belanja operasional rutin, seperti pos anggaran air mineral dan jamuan di lingkungan kantor Walikota Medan saja, semestinya sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan masa depan anak-anak dari jurang kemiskinan dan kebodohan di Medan Utara.
Melalui siaran pers ini, FORMABEM dengan tegas mendesak:
Walikota Medan Rico Waas untuk segera menghentikan segala bentuk kegiatan pencitraan, gaya hidup hedonis, dan pengalokasian anggaran yang berorientasi pada kepentingan pribadi atau kroni.
Meminta Walikota turun langsung ke lapangan melihat realitas kemiskinan di Medan Utara, khususnya Belawan, serta merealisasikan janji kampanye secara nyata, bukan sekadar retorika kosong di atas kertas.
Menuntut transparansi dan audit total penggunaan dana CSR seluruh perusahaan di Belawan—khususnya Pelindo—yang selama ini terkesan tutup mata terhadap kehancuran infrastruktur dan penderitaan sosial warga.
Pemerintah Kota Medan segera mengambil langkah darurat dan konkrit untuk menjamin hak pendidikan seluruh anak-anak kurang mampu agar tidak ada lagi kasus putus sekolah seperti yang dialami Arsa Kartika.
(Red)









